EKSPEDISI MERAPI 2012

Standar

EKSPEDISI MERAPI

Created By: Forasi. (Yuni Rahmawati)EKSPEDISI MERAPI

Kisah ini bermula dari setitik keinginan yang datang dari gagasan salah satu kawan kita untuk mengibarkan sang saka di pucak gunung, mulailah kami menyusun rencana peserta yang akan ikut mengibarkan sang saka. Kami dari kawan sragen berhasil mendapati 5 orang personil yang siap berangkat untuk mendaki malam 17 agustus. Perencanaan kami dari sragen pun berjalan matang dan mantab untuk berangkat, esok haripun kami berangkat menjuju perkumpulan (klaten) dengan naik Bus. Setelah setibanya di Klaten tentu kita merasakan udara yang nampak berbeda disana, kita bertemu beberapa tokok-tokoh lain yang nantinya akan menjadi keluarga kami. Yaitu Erry Pratama Putra, teman2 FAN JATENG kawan Perjuangan Karakter Bangsa Klaten. Disana kami merasakan mempunyai keluarga baru, dan tentunya interaksi baru selain dari kawan Forum nak. Setelah beberapa saat bahkan jam kami melakukan pengakraban, kami pun merasa sudah saling akrab..hee, semua personial kawan pendaki melakukan buka bersama di angkringan terdekat sanggar FORANKLA. Setelah buka bersama kami melakukan packing dan menunggu salah satu kawan kami dari Purworeji yang ada sedikit gangguan dalam perjalanannya. Namun Ia berhasil tiba di Klaten tepat waktu setelah kami packing. Setelah selesai packing kami melukiskan tanda tangan kita diatas sebuah kain yang terbentang sekitar 2 meter, kain inilah yang menjadi ukiran kami nantinnya. Saat melukiskan tanda tangan itu terbayangkan sudah betapa bahagiannya kami ketika sampai di puncak sang Merapi dan dengan bangga mengibarkan sang saka dengan hikmatnya upacara 17 Agustus 2012. Sebelum keberangkatan ke Selo kami mencoba breefing dengan memberikan beberapa pengalaman pendakian dan pesan-pesan untuk kawan2 nantinya, bagi kami sempat merasa deg-degan saat perjalanan ke Selo akan dilakukan. Namun sepertinya perasaan itu terhalangi sudah dengan semangat kami untuk mengikuti Upacara DIRGAHAYU RI Ke 67 di Puncak Merapi. Mungkiin ini yang pertama bahkan jadi yang terindah. Perjalanan pun dimulai, rombongan tiba di Selo sekitar tengah malam dan kita memulai pendakian saat itu juga. Awal perjalanan agak sedikit merasa haru namun juga amat sangat dingin disana, tak perduli seberapa tinggi dan jauh jarak yang akan kami daki. Kami tetap fokus. Langkah demi langkah kami pijakkan di lengkungan jalan menanjak lereng merapi, tak peduli dingin, gelap, jalan yang licin .. satu kunci adalah fokus. Entah harus seberapa panjang apabla perjalanan menuju puncak ini disusun oleh kata. Kami berhenti sejenak untuk melakukan sahur dan istirahat seraya sedikit memanjakan kaki kami. Di POS 1 kami beristirahat dan sahur. Dinginnya bebatuan dan hembusan angin meliukkkan tulang ini, hingga hati kami pun tersentuh suasana alam yang amat begitu luar biasa, bintang yang amat begitu dekat terlihat dari puncak seraaya tersiup siup mata kami dalam memandangnya karena dinginnya malam itu. Tak hanya itu bentangan langit di angkasa yang seolah dekat dan amat dekat, jelas berbeda suasana dengan tidur di rumah. Disinilah kami merasakan sebuah rasa penyatuan terhadap alam. Alam ternyata begitu indah. Setelah sejenak pulas kami melakukan solad subuh dan melanjutkan perjalanan. Seiring perjalanan kami disusul embun dan mentari yang terbit, cahanyanya elok sampan menemani sedikit perjalanan kami hingga dia kembali terbit tinggi. Jalan semakin menanjak, tenaga kami mulai limit, bahkan dibilang tidak masuk akan untuk perjalanan sedemikian rupa kami hanya berbekal seadaannya. Namun akhirnya dengan semangat yang amat besar, tak perduli sakit, pegal, lelah, semuanya hilang sekejab setelah kami tiba di puncak merapi. Haru terasa melihat juga banyak kawan yang berkumpul disana untuk meraayakan upacara sakral ini. Berbagai persiapan latihan dilakukan dan detik detik proklamasi ke 67 sepertinya aakan dimulai. Suasana bangga dan sedikit kumal mulai bernuansa. Wajah2 ceria dan semnagta masih tergambar pada romah pemuda pemuda ini.  Lantunan lagu yang mengingantkan betapa pilunya Merapi yang kala itu kita injak meletus “Kulihat Ibu Pertiwi, Sedang Bersusah hati air matanya berlinang, mas intan mu terkenang, gunung swah hutan llautan, simpanan kekayaaan, kini ibu sedang susah. Merintih dan berdoa. Lantunan lagu itu begitu mengiris hati ketika melihat pesona puncak merapi, dan juga tak kalah harunya begitu mengumandangkan lagu berkibarlah benderaku, 17 agustus, indonesia raya dan lain sebagainya. Sungguh upacara paling sakral dan mengenang bagi kami. Satu goresan dan bahkan satu titik kenangan yang mampu kami haturkan unutk kami ceritakan kepada anak cucu kami, dan yang pasti pendakian gunung itu belum seberapa apabila dibandingkan dengan perjuangnan besar nenek moyang kita. Selepas perjalanan pulang kita, dalam benak kami masih tersimpang janji untuk Negeri ini, tahun ini kami bisa akukan ini. Kami yakin taun depan lebih dan lebih lagi, Untuk Negeriku. “Bukan apa yang Bangsa Berikan kepada kami, namun Apa yang MAMPU kami berikan kepada Bangsa Ini”. DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA 67, JAYA INDONESIAKU.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s